ummihirzi@gmail.com

ummihirzi@gmail.com
Isi blog ini adalah makalah yang pernah saya buat dan presentasikan di IKA FK Unand, juga artikel kesehatan yang sudah dimuat di kolom Opini Media Lokal/Regional.

Mengenai Saya

Lahir di Bireuen, Aceh, tanggal 05 September 1977. Alumni FK Universitas Syiah Kuala Aceh. Dan telah memperoleh gelar Spesialis Anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Aktif sebagai pengurus IDAI Aceh, IDI Aceh Besar, Anggota Komunitas Rhesus Negatif Aceh dan sebagai Konselor Menyusui juga Ketua Aceh Peduli ASI (APA)...
Ummi Dokter dr. Aslinar, SpA, M. Biomed

Tentang Ummi Dokter


Anda dapat berkonsultasi dengan kami
dengan mengirim pesan melalui !

EMAIL DI SINI

SPESIALISASI


Artikel Ummi Dokter
Our Recent Posts

Minggu, 03 Desember 2017

TANTANGAN PROGRAM IMUNISASI DI ACEH

Pada bulan Agustus 2017 lalu, dicanangkan sebagai bulan pelaksanaan imunisasi MR. Program ini dilaksanakan di Pulau Jawa sedangkan pelaksanaan di luar Pulau Jawa termasuk di Aceh akan dilakukan pada bulan Agustus 2018. Imunisasi MR (Morbili dan Rubella) merupakan program imunisasi yang baru disubsidi oleh Pemerintah. Vaksin MR ini  untuk mencegah penyakit morbili (campak) dan rubella. Vaksin MR yang digunakan telah mendapat rekomendasi dari WHO dan izin edar dari BPOM. Vaksin ini aman dan sudah digunakan di 141 negara  di dunia. Vaksin MR diberikan pada usia 9 bulan sampai 15 tahun. Vaksin ini akan menggantikan posisi vaksin campak yang pemberiannya sama yaitu usia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD.

Selasa, 31 Oktober 2017

Pergub ASI Eksklusif, Apa Kabarmu?



Pada tanggal 11 Agustus 2016, Gubernur Aceh saat itu yaitu Bapak dr. Zaini Abdullah menandatangani sebuah Peraturan Gubernur (Pergub) no. 49 tahun 2016 yang dinamakan dengan Pergub ASI Eksklusif. Berbagai pertimbangan keluarnya Pergub ini antara lain bahwa pemberian ASI merupakan bagian dari pelaksanaan syariat Islam di Aceh dan juga sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif dan Undang Undang RI tentang Kesehatan N0. 36 tahun 2009 Pasal 128 bahwa setiap bayi berhak mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan dan diteruskan sampai usia 2 tahun.

Minggu, 01 Oktober 2017

VAKSIN DENGUE, HARAPAN BARU BAGI ANAK KITA


Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) merupakan penyakit yang ditakuti di kalangan masyarakat karena sering terjadi dan bisa menimbulkan banyak angka kesakitan bahkan kematian. Morbiditas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) DBD yang dilaporkan berbagai negara bervariasi disebabkan oleh beberapa faktor antara lain status umur penduduk, kepadatan vektor (nyamuk penyebab), tingkat penyebaran virus dengue, prevalensi serotipe virusnya dan kondisi meteorologis. Pola distribusi umur memperlihatkan kasus terbanyak DBD mengenai anak dengan golongan umur <15 antara="" begitu="" besar="" bulan="" dan="" dbd="" di="" februari="" garis="" indonesia="" januari.="" jelas="" jumlah="" kasus="" mencapai="" meningkat="" musim="" namun="" pada="" pengaruh="" puncaknya="" sampai="" secara="" september="" span="" tahun="" terhadap="" tidak="">
            Penyakit ini pertama kali ditemukan di Indonesia yaitu pada tahun 1968 di Surabaya kemudian berturut turut dilaporkan di Jakarta, Bandung juga Yogyakarta. Epidemi (wabah) pertama dilaporkan di luar Jawa pada tahun 1972 di Sumatera Barat, disusul Riau, Sulawesi Utara dan Bali. Pada tahun 1994 kasus DBD telah menyebar ke seluruh Indonesia dan menjadi endemis di banyak kota besar serta telah menjangkiti daerah pedesaan.
            Penyebab penyakit DBD adalah virus dengue. Terdapat 4 jenis tipe virus yang telah berhasil diisolasi yaitu virus dengue tipe 1, 2, 3 dan 4. Sebagian besar pasien yang menderita DBD derajat berat bahkan sampai meninggal disebabkan virus dengue tipe 3. Virus ini diperantarai oleh vektor yaitu nyamuk Aedes Aegypti. Seorang peneliti bernama Graham merupakan seorang sarjana pertama yang pada tahun 1903 dapat membuktikan secara positif peran nyamuk tersebut dalam transmisi dengue.  
            Penyakit DBD ini merupakan penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti, dapat menyerang semua orang dan menyebabkan kematian terutama pada anak, serta sering menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah. Penyakit ini ditularkan oleh orang yang di darahnya mengandung virus dengue. Jika orang yang digigit nyamuk Aedes maka virus dengue akan masuk bersama darah yang diisapnya. Di dalam tubuh nyamuk, virus dengue akan berkembang biak dengan cara membelah diri dan menyebar di seluruh tubuh nyamuk. Sebagian besar virus berada di kelenjar ludah nyamuk. Dalam waktu 1 minggu jumlah virus bisa mencapai ratusan ribu sehingga siap untuk dipindahkan/ditularkan kepada orang lain. Selanjutnya saat nyamuk menggigit orang lain, maka setelah alat tusuk nyamuk menemukan kapiler darah dan sebelum darah orang tersebut diiisap, maka terlebih dahulu dikeluarkan air liur dan virusnya akan masuk ke darah manusia yang digigit. Tidak semua orang yang digigit oleh nyamuk Aedes Aegypti yang membawa virus dengue itu akan terserang penyakit DBD. Orang yang mempunyai kekebalan yang cukup terhadap virus dengue tidak akan terserang penyakit ini meskipun di dalam darahnya terdapat virus itu. Sebaliknya pada orang yang tidak mempunyai kekebalan yang cukup terhadap virus dengue dia akan sakit ringan hingga berat yaitu demam tinggi disertai perdarahan bahkan syok.
            Di Indonesia nyamuk Aedes Aegypti tersebar luas di pelosok tanah air, baik di kota maupun di desa, kecuali di daerah yang ketinggiannya lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut. Hanya nyamuk betina yang menggigit dan menghisap darah manusia sedangkan nyamuk jantan hidup dari menghisap sari tumbuhan. Perkembangan nyamuk ini dari telur hingga dewasa memerlukan waktu sekitar 10-12 hari. Tempat istirahat yang disukai adalah benda benda yang tergantung yang ada di dalam rumah yaitu gorden, kelambu, baju/pakaian. Kepadatan nyamuk ini akan meningkat pada waktu musim hujan dimana banyak terdapat genangan air bersih yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes Aegypti.
            Gejala klinis penyakit DBD adalah demam tinggi mendadak dan terus menerus selama 2 – 7 hari disertai dengan gejala lain berupa nyeri kepala, mual muntah, nyeri otot, nyeri perut. Pada derajat 2 bisa disertai dengan manifestasi perdarahan di kulit berupa petekhie (bintik darah kecil di bawah kulit dan tidak menghilang dengan penekanan), perdarahan gusi, hidung (epistaksis), muntah darah (hematemesis) dan buang air besar berwarna kehitaman (melena). Pada tahap yang berat (derajat 3) bisa dengan syok yang ditandai nadi lemah dan cepat, tekanan darah menurun, kulit teraba lembab dan dingin terutama di jari tangan juga kaki, pasien menjadi gelisah serta timbul kebiruan di sekitar mulut. Pasien harus ditangani dengan segera dan secara tepat karena bila tidak maka akan masuk dalam tahap syok berat (derajat 4) bahkan kematian.
Pencegahan
Upaya utama pada penyakit DBD ini adalah pencegahan berupa tindakan pemberantasan vektor nyamuk penyebab. Upaya berupa pemberantasan sarang nyamuk  yaitu dengan gerakan 3M: 1). Menguras tempat penampungan air secara teratur sekurang kurangnya satu kali seminggu atau menaburkan bubuk abate ke dalamnya, 2). Menutup rapat tempat penampungan air dan 3). Mengubur/menyingkirkan barang barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas, plastik dll. Selain gerakan 3M, juga dilakukan fogging (pengasapan). Kegiatan fogging ini hanya dapat membunuh sebagian nyamuk dewasa. Selama jentik yang ada di tempat perindukan tidak diberantas setiap hari, maka akan muncul nyamuk nyamuk baru yang menetas dan penularan penyakit akan terulang kembali.
Vaksin Dengue
Penemuan terbaru di bidang vaksin adalah ditemukannya vaksin dengue. Penelitian terhadap vaksin ini sudah mulai dilakukan sejak 60 tahun yang lalu dan mengalami kemajuan yang pesat sejak 10 tahun terakhir ini. Vaksin yang tersedia saat ini adalah vaksin dengue tetravalen yang bisa melindungi dari keempat jenis virus dengue tersebut mulai dari Den 1, 2,  3, dan 4. Karena diketahui bahwa imunisasi dengan satu jenis virus malah meningkatkan progresivitas DBD pada infeksi selanjutnya dengan tipe virus berbeda. Vaksin dengue ini diberikan pada anak usia 9 tahun, tiga kali pemberian dengan interval 6 bulan di antara tiga dosis vaksin tersebut.
Vaksin dengue ini sudah beredar di dunia sejak 9 Desember 2015, pertama sekali beredar di Mexico kemudian menyusul Filipina, El Salvador dan Brazil. Di Indonesia sejak Oktober sudah mulai beredar dan mulai digunakan.  Penemuan vaksin dengue ini dianggap sebagai salah satu pencapaian historis dalam sejarah vaksinologi dan diyakini akan menurunkan angka kejadian demam berdarah.  Sebelum mendapat izin edar, vaksin ini sudah menjalani proses uji klinis yang melibatkan lebih dari 40.000 orang di seluruh dunia, dari berbagai kelompok umur, etnis, latar belakang epidemiologis, kondisi geografis, dan status sosioekonomis.
Dampak infeksi DBD di negara negara endemis cukup terasa, sebanyak 400 juta orang terinfeksi setiap tahunnya. Terdapat 128 negara yang dinyatakan endemis dan Indonesia termasuk di dalamnya. Badan Kesehatan Dunia, WHO menargetkan dengan pemberian vaksin dengue ini di tahun 2020 angka kematian akibat infeksi DBD bisa jauh berkurang. Dari uji klinis yang telah dilakukan diketahui bahwa bila vaksinasi dengue ini diberikan pada 20% populasi di 10 negara endemis yang berpartisipasi, kasus baru DBD dapat dikurangi hingga 50%. Dan Indonesia termasuk salah satu negara yang ikut berpartisipasi dalam uji klinis vaksin tersebut. Kita sangat berharap semoga dengan pemberian vaksin ini yang memang sudah beredar di masyarakat Indonesia maka jumlah penyakit DBD jauh berkurang. Memang saat ini vaksin ini belum disubsidi oleh Pemerintah dan belum menjadi salah satu vaksin yang gratis yang disediakan di Puskesmas atau Rumah Sakit. Saat ini untuk mendapatkan vaksin tersebut bisa dengan mengunjungi dokter spesialis anak dengan harga vaksin yang lumayan mahal. Akan tetapi harga yang diperkirakan mahal tersebut akan jauh terasa murah apabila dibandingkan dengan jumlah biaya yang harus kita keluarkan bila anak anak kita menderita DBD.


Minggu, 10 September 2017

Puasa & Menyusui

Saat ini kita sudah memasuki bulan Ramadhan, bulan suci yang dinantikan seluruh umat Islam di muka bumi. Ibadah puasa bulan Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam yang perintah pelaksanaannya terdapat dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya “ Hai orang orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Sebagai muslim, kita menyadari dan meyakini puasa sebagai salah satu ibadah utama yang kedatangannya selalu kita nantikan. Adapun syarat wajib yang harus dipenuhi bila seseorang yang akan berpuasa adalah Islam, baligh (cukup umur), berakal, suci dari haid dan nifas bagi perempuan, berada di kampungnya (tidak wajib bagi musafir), dan sanggup berpuasa (tidak wajib atas orang yang lemah dan sakit).  Bagaimana halnya terhadap Ibu yang sedang menyusui bayinya?
Dalam kondisi yang normal, seorang Ibu memerlukan sebanyak 1800-2200 kkal untuk menjalankan aktivitasnya. Akan tetapi bila sedang menyusui eksklusif (enam bulan pertama usia bayi), maka si Ibu membutuhkan tambahan kalori sebesar 500 kkal setiap harinya. Dengan kebutuhan seperti ini, apakah bisa dipenuhi saat ibu berpuasa?
Di Indonesia, lamanya waktu kita berpuasa yaitu sekitar 14 jam. Berpuasa bagi Ibu menyusui bukan berarti mengurangi kualitas dan kuantitas makan akan tetapi mengatur atau menyiasati waktu makannya. Jika tadinya makan 3x sehari ditambah 2x cemilan maka di bulan puasa tetap melakukan jadwal demikian akan tetapi berpindah waktunya saja. Yaitu makan di saat sahur, makan di saat berbuka puasa, makan menjelang tidur (1,5 -2 jam sebelum tidur). Sedangkan cemilan disiasati setelah ibu menyusui/memerah di saat malam hari.
Menurut beberapa penelitian terhadap Ibu menyusui bayi usia 2-5 bulan dan berpuasa, ternyata puasanya tidak berpengaruh kepada bayinya. Kadar karbohidrat, protein, dan lemak tetap tapi kadar mikronutrien yang mengalami penurunan. Penelitian lain menunjukkan bahwa indek massa tubuh Ibu tidak berubah akan tetapi terjadi pengurangan pemasukan kalori yang dibutuhkan. Secara umum, para ahli laktasi menganjurkan ibu menyusui eksklusif, tidak berpuasa selama bulan Ramadhan karena si Ibu akan lebih sering haus pasca menyusui terutama ketika bayi sedang dalam growth spurt (percepatan pertumbuhan) yaitu bayi akan menyusu lebih sering.
Selain karena sedang menyusui eksklusif, ada beberapa kondisi lain dimana Ibu menyusui disarankan untuk tidak berpuasa, yaitu: sedang menjalani pengobatan, menderita penyakit berat (migrein yang tidak terkontrol, hipertensi, diabetes dan hipoglikemia).
Banyak pertanyaan seputar hukum Ibu menyusui tidak berpuasa. Dalam Al Baqarah 184, Allah berfirman:’..Barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka) maka wajib baginya mengganti sebanyak hari yang ditinggalkan. Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (bila tidak berpuasa) membayar fidyah’. Terdapat 4 golongan yang dikategorikan berat menjalankan puasa yaitu orang yang tidak mampu berpuasa karena sudah tua, sakit menahun, ibu hamil dan menyusui. Dalam hadist juga disebutkan: Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah bersabda,”sesungguhnya Allah meringankan separuh shalat musafir dan puasa perempuan hamil dan menyusui”.
Dari bebebapa literatur yang penulis dapatkan, terdapat perbedaan pendapat para ulama tentang bagaimana cara membayar puasa yang ditinggalkan oleh Ibu menyusui. Pendapat pertama mengatakan cukup dengan membayar fidyah saja (diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Umar dan Said bin Jubair, juga Al Qasim bin Muhammad dan sekelompok ulama), pendapat lain ada yang mengatakan harus membayar qadha puasa saja tanpa membayar fidyah (mazhab Hanafi) dan ada pendapat ketiga yang mengatakan harus mengqadha puasa dan membayar fidyah juga (pendapat madzhab Maliki, juga merupakan pendapat Imam Syafii dalam Kitab Al Buwaithi).
Bagi Ibu menyusui yang memutuskan tetap berpuasa, maka berikut beberapa tips yang perlu diperhatikan: 1). Menjaga makan (tetap 3x dan cemilan 2x), dengan asupan nutrisi yang sesuai dengan gizi seimbang (mengandung gizi lengkap berupa karbohidrat, lemak, protien, vitamin, mineral), 2). Cukup cairan dimana Ibu menyusui butuh sekitar 3 liter cairan perhari yang bisa didapat dari air minum, buah dan sayuran, 3). Segera berbuka puasa bila Ibu menunjukkan tanda dehidrasi yaitu Ibu merasa sangat haus terutama setelah menyusui/memerah, BAK sedikit dan bewarna pekat, merasa sangat lemas dan berkunang kunang , 4). Pantau selalu keaadaan bayi. Bayi minimal BAK 6x/hari, kenaikan BB bayi dan pantau perilaku bayi). Jadi bila Ibu menunjukkan tanda dehidrasi dan si bayi kurang BAK, BB tiddak naik dan bayi menjadi sangat rewel atau gelisah, maka sebaiknya Ibu berbuka puasa.

Senin, 24 Juli 2017

BAHAYA KABUT ASAP BAGI KESEHATAN ANAK



Sejak beberapa bulan ini Aceh sedang dilanda musim kemarau. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bahwa sejumlah wilayah di Provinsi Aceh memasuki puncak musim kemarau dengan suhu rata-rata 35 derajat Celsius. Terutama di dataran rendah pesisir Timur dan Barat suhu mencapai 35,8 derajat. Wilayah kabupaten/kota dataran rendah bagian Timur di Aceh meliputi Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Bireuen, Aceh Jaya, Lhokseumawe dan Aceh Tamiang. Sedangkan wilayah dataran rendah pada bagian Barat di Aceh seperti Tapak Tuan, Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Jaya dan Aceh Singkil. BMKG memperkirakan puncak musim kemarau terjadi selama hampir dua bulan ke depan atau terhitung mulai Agustus hingga September tahun ini.

Selasa, 30 Mei 2017

LINGKUNGAN TANPA ROKOK, SEBATAS MIMPIKAH?


Setiap tanggal 31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia (World No-Tobacco Day). Peringatan itu digelar di berbagai tempat. Di lingkungan pemerintah, lingkungan kampus atau mahasiswa, dan di masyarakat. Berbagai poster anti tembakau/rokok tersebar di banyak tempat. Pada tanggal tersebut dihimbau kepada para perokok supaya bisa menahan diri tidak merokok selama 24 jam. Pertanyaannya, apakah selama ini ada perokok yang menjalankannya?

Minggu, 07 Mei 2017

Mengenal Thalassemia

Thalassemia adalah penyakit dengan kelainan genetik yang menyebabkan kelainan sel darah merah. Penyakit Thalassemia ini merupakan penyakit genetik terbanyak di dunia yang saat ini sudah dinyatakan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebagai masalah kesehatan di dunia termasuk juga di Indonesia. Setiap tahunnya Hari Thalassemia diperingati pada tanggal 8 Mei. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan sosialisasi kepada masyarakat luas tentang apa itu Thalassemia dan berbagai upaya pencegahannya. Thalassemia berasal  dari bahasa Yunani “Thalassa” yang berarti laut, dimana pertama kali kasusnya ditemukan di Laut Tengah dan pada akhirnya meluas di Wilayah Mediterania, Afrika, Asia Tengah, Indian, Burma, China dan Indonesia.

Senin, 10 April 2017

SINDROM DOWN, JANGAN SISIHKAN MEREKA

Setiap tanggal 21 Maret diperingati sebagai Hari Sindrom Down Dunia. Pertama kali ditetapkan pada tahun 2006 oleh Lembaga Down Syndrom International dan tahun 2007 oleh WHO. Sedangkan PBB secara resmi menetapkan tanggal 21 Maret sebagai Hari Sindrom Down Sedunia yaitu pada tahun 2012. Dipilihnya tanggal tersebut berdasarkan kelainan yang ada pada Sindrom Down yaitu kromosom 21 yang memiliki trisomi (3).  Sindrom Down (SD) adalah kelainan genetik yang paling sering ditemukan dan berhubungan dengan retardasi mental yang disebabkan oleh adanya kelebihan materi genetik kromosom 21. Angka kejadiannya di dunia diperkirakan adalah 1 kasus setiap 600-800 kelahiran. Diperkirakan saat ini terdapat 4 juta penderita sindrom down di seluruh dunia. Sebuah penelitian di Universitas Indonesia mendapatkan bahwa terdapat 300.000 anak yang lahir dengan SD di Indonesia. Sedangkan untuk jumlah penyandang SD di Aceh, penulis belum mendapatkan data yang jelas.

Minggu, 12 Maret 2017

Difteri Pada Anak


Sebulan terakhir  ini kita dikejutkan dengan berita bahwa penyakit difteri kembali menyerang anak anak di Aceh. Sebuah berita yang mengejutkan dan tentunya mengerikan bagi kita semua. Di Indonesia penyakit difteri kembali muncul sekitar tahun 2003 yaitu di daerah Bangkalan Jawa Timur yang kemudian menyebar ke hampir semua Kabupaten/Kota di Jawa Timur dan ditetapkan sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa) oleh Gubernur pada tahun 2011. Pada tahun berikutnya dilaporkan kasus difteri dari Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Jumat, 06 Januari 2017

MENYUSUI DALAM PERSPEKTIF AL QURAN & HADIST



Terdapat  beberapa dalil Al Quran yang menjelaskan tentang menyusui. Yang pertama adalah Surat Al Baqarah ayat 233 yang mengandung arti “Para Ibu hendaklah menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban Ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kemampuannya. Janganlah seorang Ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang Ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”.

ASI & IMUNISASI



Apakah ASI bisa menggantikan posisi vaksin yang berguna untuk imunisasi? Jawabannya adalah TIDAK. Karena ASI dan Imunisasi tidak saling menggantikan akan tetapi berjalan beriringan. Memberikan ASI eksklusif enam bulan, dilanjutkan kemudian sampai usia dua tahun dan memberikan Imunisasi sejak lahir sampai usia tertentu berdasarkan jadwal yang sudah ditetapkan. Belakangan ini banyak bermunculan para antivaksin yang secara terang terangan menolak pemberian imunisasi. Mereka giat melancarkan kampanye melalui media sosial dan juga buku. Berbagai isu negatif digulirkan dalam menentang imunisasi.

RUANG LAKTASI DI PENGUNGSIAN


Gempa berkekuatan 6,4 Skala Richter yang terjadi pada Hari Rabu 7 Desember 2016 telah memberikan banyak duka kepada masyarakat Aceh khususnya yang berada di Wilayah Kabupaten Pidie Jaya dan sebagian wilayah Kabupaten Bireuen. Banyak korban meninggal karena terhimpit bangunan yang roboh, juga korban yang luka berat serta luka ringan. Bangunan rumah dan ruko banyak yang hancur total ataupun retak. Kondisi demikian menyebabkan warga harus tinggal di pengungsian. Masih seringnya terjadi gempa susulan juga menjadi alasan bagi warga masyarakat untuk tetap tinggal di lokasi pengungsian walaupun rumahnya tidak ikut roboh atau retak.

Aktifitas Organisasi

Hubungi Kami


Alamat
Jalan Muhammad Taher No. 9
Perumahan Bayu Permai
Desa Bayu Kecamatan Darul Imarah
Kabupaten Aceh Besar - Aceh

dokter.ummi@gmail.com

Tertarik dengan kegiatan dan layanan informasi yang kami berikan?
Anda dapat memperoleh informasi terbaru melalui email.