ummihirzi@gmail.com

ummihirzi@gmail.com
Isi blog ini adalah makalah yang pernah saya buat dan presentasikan di IKA FK Unand, juga artikel kesehatan yang sudah dimuat di kolom Opini Media Lokal/Regional.

Mengenai Saya

Foto saya
Lahir di Bireuen, Aceh, tanggal 05 September 1977. Alumni FK Universitas Syiah Kuala Aceh. Dan telah memperoleh gelar Spesialis Anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Aktif sebagai pengurus IDAI Aceh, IDI Aceh Besar, Anggota Komunitas Rhesus Negatif Aceh dan sebagai Konselor Menyusui juga Ketua Aceh Peduli ASI (APA)...

Minggu, 30 Agustus 2020

Kapan Susu Formula Boleh Diberikan?


Bisa menyusui dan memberikan ASI adalah idaman dan keinginan semua ibu. Mengapa? Karena dengan menyusui berarti sudah menjalankan ibadah dan perintah Allah yang termaktub dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 233. Selain itu, banyak sekali keuntungan menyusui baik bagi bayi, ibu maupun untuk keluarga dan juga lingkungan sekitar.

            Nah bagaimana halnya bila ada bayi yang tidak mendapatkan ASI? Bagaimana halnya bila ada ibu yang tidak bisa menyusui bayinya? Terdapat hirarki dalam pemberian makanan dan minuman pada bayi, yaitu 1). Menyusui langsung, 2). Memberikan ASI perah, 3). ASI donor, dan 4). Susu formula. Jadi susu formula merupakan tingkatan terakhir untuk pemberian makanan dan minuman pada bayi.

            Pertanyaannya kapankah boleh memberikan susu formula? Sesuai  hirarki tersebut, maka susu formula diberikan bila ASI langsung, ASI Perah dan ASI Donor tidak mungkin diberikan. Berdasarkan Undang Undang RI No. 36 tahun 2009 pasal 128 disebutkan bahwa setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 133 tahun 2012, juga disebutkan dalam pasal 7 bahwa kewajiban memberikan ASI tidak berlaku bila terdapat indikasi medis, ibu jauh dari bayi, dan ibu tidak ada.

Indikasi medis yang dimaksudkan terbagi dua kriteria, yaitu berdasarkan kondisi bayi dan juga kondisi ibu. Bayi yang memerlukan formula khusus adalah dengan kondisi Galaktosemia klasik, Maple syrup urine disease, Fenilketonuria. Galaktosemia  adalah kondisi dimana bayi tidak mampu memecah galaktosa. Senyawa tersebut adalah bagian dari laktosa yang merupakan gula utama di dalam ASI. Bayi dengan galaktosemia klasik, maka kemungkinan besar mereka tidak dapat mengonsumsi ASI.  Maple syrup urine disease adalah suatu kondisi penyakit lain yang menyebabkan bayi tidak bisa mencerna protein leusin, isoleusin, dan valine. Sebab itulah bayi tidak boleh mendapatkan ASI atau susu biasa dan hanya boleh diberikan susu formula tanpa kandungan ketiga jenis protein tersebut. Sedangkan Fenilketonuria enilketonuria (PKU) adalah kesalahan metabolisme bawaan yang ditandai dengan tidak adanya atau kekurangan enzim Fenilalanin hidroksilase yang gunanya untuk memproses fenilalanin asam amino esensial.

Selanjutnya kondisi bayi yang membutuhkan formula selain ASI dalam jangka waktu terbatas atau bersifat sementara yaitu Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) kurang dari 1500 gram, bayi lahir pada usia kehamilan kurang dari 32 minggu serta bayi berisiko hipoglikemia yang gagal merespons pemberian ASI. Untuk kondisi seperti ini, pemberian susu formula harus atas konsultasi dan resep dari dokter.

Indikasi medis lain yang membolehkan pemberian susu formula adalah kondisi ibu. Ibu dibenarkan tidak menyusui secara permanen yaitu kondisi ibu yang menderita Infeksi HIV. Namun untuk pengganti ASI berupa susu formula harus memenuhi kriteria AFASS (Acceptable (dapat diterima), Feasible (layak), Affordable (terjangkau), Sustainable (berkelanjutan) & Safe (aman)). Sedangkan kondisi Ibu dibenarkan menghentikan menyusui sementara yaitu penyakit parah yang menghalangi ibu merawat bayi yaitu infeksi virus herpes simpleks 1 di payudara dan kondisi ibu terpapar dengan obat obatan psikoterapi, radioaktif, iodium, dan juga kemoterapi.

Dalam pasal 15 dan 16 PP Nomor 33 tahun 2012 disebutkan bahwa dalam hal pemberian ASI Eksklusif tidak dimungkinkan berdasarkan pertimbangan (indikasi medis baik dari phak ibu maupun bayi), bayi dapat diberikan susu formula bayi. Dalam memberikan susu formula bayi, maka tenaga kesehatan harus memberikan peragaan dan penjelasan atas penggunaan dan penyajian susu formula bayi kepada ibu dan/atau keluarga yang memerlukan susu formula bayi.

            Jadi memberikan susu formula adalah harus atas indikasi medis. Dan jika memang diperlukan maka penggunaannya pun harus dijelaskan dengan baik oleh tenaga kesehatan. Mengapa? Kesalahan dalam penggunaan baik itu dalam persiapan, pembuatannya dan penyimpanannya bisa berakibat tidak baik untuk bayi. Jadi semuanya ada aturannya. Misalnya dalam pengenceren, bila terlalu kental bisa menyebabkan bayi sembelit dan dehidrasi, akan tetapi bila terlalu encer menyebabkan bayi kekurangan gizi yang dibutuhkan. Kemudian aturan dalam membuatnya dimana dibutuhkan air yang bersih dan sudah dimasak. Masih banyak ditemukan di wilayah Indonesia, masyarakat yang menggunakan sungai sebagai sumber air minumnya sekaligus juga MCK. Hal yang juga dikhawatirkan adalah kebersihan botol. Bayi yang menggunakan susu formula dan diberikan dengan botol dot sangat berisiko terjadi diare apabila tidak memperhatikan faktor hygienitasnya.

            Maka bila para ibu dan bayi tidak memiliki kondisi medis yang menghalanginya untuk menyusui, maka lanjutkan pemberian ASI. Menyusui adalah hadiah yang sangat berharga yang dapat diberikan oleh seorang ibu pada bayinya. Pada keadaan miskin, menyusui mungkin merupakan pemberian satu-satunya, sedangkan pada keadaan sakit, menyusui dapat merupakan pemberian yang menyelamatkan jiwanya...

 

Senin, 24 Agustus 2020

Saat Saya Dinyatakan Positif!!


Pada hari Selasa, 4 Agustus 2020, saya datang ke Pinere RSUDZA untuk melakukan pemeriksaan swab. Mengapa? Karena saya merasa melakukan kontak erat dengan seorang teman yang dikabarkan terkonfirmasi positif Covid-19. Pengertian kontak erat sesuai Pedoman Kemenkes yaitu seseorang yang kontak atau berdekatan dengan seseorang yang terkonfirmasi positif Covid-19 dalam jarak kurang 1 meter dan dalam waktu lebih 15 menit. Bisa saja saya  juga kontak dengan orang lain sebelumnya, apakah itu dengan pasien di di rumah sakit, praktik  atau dimana saja. Wallahu’alam. Yang jelas saya tidak berusaha menyalahkan atau mencari kambing hitam di sini.

 Ini adalah tanggung jawab moral saya untuk menyakinkan diri apakah saya tertular atau tidak. Dan jangan sampai saya menularkan kepada orang lain. Bayangkan di rumah saya ada anak anak, suami, para keponakan, juga Mamak saya yang sudah lanjut usia. Ini sangat saya khawatirkan,walaupun sejak saya putuskan isolasi diri (malam sebelumnya), saya tidak berjumpa dengan beliau. Hanya via videocall saja saya memantau kondisi beliau. Beliau dengan berbagai penyakit berat dan kondisi yang lemas. Kondisi beliau membuat saya merasa sangat khawatir.

            Dan saat yang tidak saya harapkan itupun tiba. Menjelang magrib tanggal 5 Agustus (Rabu), saya mendapat jawaban tentang hasil swab saya: ”positif dok”, kata Kepala Laboratoriumnya. Perasaan saya sangat kacau. Rasanya gunung jatuh ke atas kepala. Jantung berdegup kencang sambil saya menangis sesenggukan di dalam kamar. Ya sendirian tentunya saya menangis karena memang sudah lebih sehari saya mengisolasi diri. Setelah satu jam, saya pun memberitahu suami bahwa saya terkonfirmasi positif Covid-19. Saya beritahu via telpon dan beliau hanya terdiam dan bertanya kondisi saya bagaimana sekarang. Dukungan beliau yang menguatkan saya. Kita hadapi sama sama ya sayang, kita lawan Covid ini bersama. Begitulah dukungannya yang membuat saya menjadi bersemangat kembali.

            Kemudian saya mulai memberitahu beberapa orang tentang berita tersebut. Reaksi yang diberikan oleh teman teman bisa mencerminkan siapa saja yang bisa dianggap sebagai sahabat. Ada yang berusaha mencari kesalahan saya dengan menyalahkan kegiatan yang saya lakukan sebelumnya. Ya sudahlah saya menganggap itu sebagai pembelajaran. Tapi ternyata Allah memberikan sahabat yang sangat banyak yang luar biasa memberikan dukungan. Masyaa Allah tidak sanggup saya jabarkan satu persatu. Sangat banyak masuk pesan whatsapp, sms, inbox di Fb dan dm di instagram saya. Dan semuanya mendoakan yang terbaik buat saya dan memberikan semangat.

            Berbagai dukungan lain juga ditunjukkan oleh para sahabat. Saya hitung sejak hari Rabu tersebut, saya banyak sekali menerima panggilan telpon dari abang gojek yang mengantarkan berbagai paket. Baik itu makanan, minuman berupa berbagai jenis buah buahan, air zamzam, susu, kurma, madu, Habbatussauda, minuman rempah yang khusus dimasak sendiri oleh sahabat saya, kemudian juga multivitamin, propolis, masker, handschoen, hand sanitizer, face shield, berbagai cemilan berupa kerupuk, kue bawang, salak pliek, pudding, donat, berbagai jenis bolu/cake, pizza, ayam goreng bahkan ada yang mengirim rendang Padang, Juga yang paling saya idamkan:kopi sanger.

Masya Allah setiap menerima kiriman tersebut, selalu saya menangis terharu. Luar biasa bahagia dikelilingi oleh mereka yang sangat baik, sangat perhatian. Juga dukungan dari organisasi dimana saya berada di dalamnya. Kiriman paket juga saya terima dari IDI Wilayah Aceh, IDI Aceh Besar, PW Aisyiyah Aceh, Kawan Spesialis RS Aceh Besar, Dinas Kesehatan Aceh Besar, IDAI Aceh dan tentu saja semua teman teman Aceh Peduli ASI serta teman teman seangkatan kuliah dulu.. Peluk erat buat semua.

            Pada awal memang terasa sangat berat menjalaninya. Terutama karena berpisah dengan anak anak. Ya berpisah secara fisik. Putri bungsu saya, selalu menangis sambil menelpon meminta untuk berjumpa dan memeluk saya. Luar biasa berat rasanya untuk tidak menangis mendengar rengekannya. Alhamdulillah setelah beberapa hari dilalui, si bungsu sudah mulai paham. Anak anak, suami dan semua keluarga besar yang kontak erat dengan saya, ikut menjalani tes pemeriksaan swab juga.  

Semangat yang diberikan oleh teman teman, membuat saya berusaha bahagia selalu. Saya putuskan menerima ajakan live instagram dari seorang dokter selebgram dari Jakarta, membahas tentang menyusui. Kemudian saya tetap ikut meeting online untuk persiapan kegiatan Pelatihan Gizi Buruk bersama Unicef dan Dinas Kesehatan Provinsi Aceh bahkan dilanjutkan menjadi panelis/pelatih dalam kegiatan tersebut selama 7 kali pertemuan. Kemudian saya juga menjadi pembicara di Webinar Nakes dan Webinar Awam dalam rangka perayaan World Breastfeeding Week (Pekan Menyusui Sedunia) tahun 2020 oleh Aceh Peduli ASI, dimana saya juga sebagai Ketuanya.

            Alhamdulillah saya ucapkan ternyata hal tersebut bisa menjadi immune booster buat saya. Walaupun hanya di kamar saja, tapi saya harus  produktif dan tetap melakukan kegiatan di luar ibadah rutin dan sunat yang saya jalankan.

            Dari Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Aceh juga ikut menghibur kami tenaga kesehatan yang terkonfirmasi positif Covid-19 dengan mengadakan beberapa kali pengajian.. Para ustad berpesan bahwa dengan Allah memberikan sakit/musibah ini menjadikan kesempatan buat kita untuk memperbanyak ibadah dimana sebelumnya mungkin terasa kurang karena kesibukan di rumah sakit atau puskesmas dan tempat praktik. Jadikan musibah yang Allah berikan sebagai kesempatan untuk mengisitirahatkan fisik dari kelelahan aktifitas duniawi, manfaatkan waktu untuk bermuhasabah dan mendekatkan diri kepadaNYA. Allah tidak akan memberi ujian di luar kemampuan hambaNYA. Dan Allah sudah memilih hambaNYA yang kuat untuk menjalani ujianNYA. Luar biasa sungguh membakar semangat mendengar tausiyah beliau.

Terimakasih yang sangat besar saya ucapkan kepada semuanya yang sudah memberikan dukungan baik moril maupun materil kepada saya. Hanya Allah yang dapat ,membalas kebaikan teman teman semua. Pelajaran berharga yang bisa kita petik adalah bahwa Covid-19 tersebut bisa menyerang siapapun. Sudah berusaha menjaga protokol kesehatan saja bisa tertular, bagaimana lagi dengan orang orang yang tidak peduli di luar sana. Yang penting kita ingat saat ini bahwa Aceh itu dimana pun sudah terjadi transmisi lokal. Siapa saja yang kita temui, mungkin saja merupakan orang terkonfirmasi positif tapi tanpa gejala (sebelumnya di pedoman lama disebut dengan OTG). Maka kita harus waspada selalu dengan memakai masker, menjaga jarak dan sering mencucui tangan. Pesan saya juga kepada masyarakat untuk tidak memberikan label negatif kepada mereka yang terkonfirmasi positif. Didiagnosis Covid-19 ini bukanlah aib. Tidak ada satu orangpun yang mau tertular dan ingin menularkan kepada orang lain. Semoga bermanfaat sharing saya ini.

Sabtu, 01 Agustus 2020

Menyusui di Masa Pandemi

Kondisi pandemi Covid-19 sudah menyerang dunia selama lebih kurang 7 bulan. Dan khususnya untuk negara kita Indonesia, sudah terjadi wabah tersebut selama lebih dari 4 bulan. Saat ini kasus di dunia per tanggal 26 Juli adalah 16,3 juta kasus. Di Indonesia sendiri sudah mencapai 98.778 kasus. Kasus tersebut hampir menyerang semua kelompok usia baik usia lanjut, dewasa, bayi, anak anak bahkan ibu hamil dan ibu menyusui.

            Nah, bagaimana dengan ibu menyusui bila terkonfirmasi positif Covid-19? Apakah masih tetap boleh meneruskan menyusui langsung, atau harus menghentikan pemberian ASInya? Dari berbagai literatur, tidak didapatkan bukti bahwa virus Covid-19 bisa ditransmisi melalui ASI. Sebagaimana kita ketahui bahwa penularan virus penyebab penyakit Covid-19 ini adalah melalui droplet atau percikan baik itu berupa batuk, bersin yang mengenai benda atau orang di sekitar. Walaupun belakangan terdapat informasi bahwa penyebaran virus ini juga dikhawatirkan melalui air borne atau melalui udara, akan tetapi penularan via ASI tetap belum dilaporkan sejak kasus pertama terjadi di Wuhan, China.

            Berdasarkan dari pedoman yang berasal dari WHO-Unicef dan ABM, bahwa belum ditemukan adanya transmisi vertikal dari ibu ke janin. Demikian juga dari penelitian terbatas, bahwa tidak ditemukan SARS Co-V (SARS Corona Virus 2, nama virus penyebab Covid-19) dalam ASI pada ibu menyusui yang terkonfirmasi positif Covid-19. Oleh Zeng dkk, pada Maret 2020 merilis hasil penelitian dimana dari enam orang ibu yang terkonfirmasi positif Covid-19, virus SARS Co-V tersebut tidak terdeteksi pada serum/swab tenggorokan bayinya, Jadi ibu dengan positif Covid-19 dapat terus melanjutkan untuk menyusui bayinya.

            Mengapa WHO mengeluarkan rekomendasi demikian? WHO mengakui bahwa rekomendasi yang dikeluarkan berupa “bahwa ibu yang terinfeksi Covid-19 harus selalu dekat dengan bayinya”, mungkin tampak bertentangan dengan prinsip Pencegahan dan Pengendalian Infeksi yang mencakup tentang isolasi bagi orang yang terkonfirmasi positif. Pada bayi, risiko infeksi jauh lebih rendah dan infeksinya biasanya ringan atau tanpa gejala, akan tetapi konsekuensi dengan memisahkan bayi dari ibunya jauh lebih terasa berefek signifikan.

ASI mengandung semua zat yang dibutuhkan oleh bayi. ASI mengandung zat zat gizi yang lengkap, mudah dicerna, diserap secara efisien. ASI mengandung semua nutrisi penting yang diperlukan bayi untuk tumbuh kembangnya, disamping itu juga mengandung antibodi yang akan membantu bayi membangun sistem kekebalan tubuh dalam masa pertumbuhannya. Dalam satu tetes ASI mengandung air, protein, laktosa, antibodi, asam lemak essensial, vitamin dan mineral, hormon dan faktor pertumbuhan, mikrobiota normal, serta enzim anti viral dan anti bakterial.  

ASI melindungi terhadap infeksi, melindungi kesehatan ibu, membantu bonding dan menunda kehamilan yang baru. Menyusui membantu ibu dan bayi membentuk hubungan yang erat dan penuh kasih sayang yang membuat ibu merasa puas secara emosional. Kontak kulit antara ibu dan bayi segera setelah persalinan membantu mengembangkan hubungan tersebut. Proses ini yang disebut dengan bonding.

Pada semua tataran kehidupan sosial ekonomi, menyusui dapat meningkatkan kelangsungan hidup dan kesehatan jangka panjang serta manfaat tumbuh kembang bayi baru lahir dan anak. Menyusui juga meningkatkan kesehatan ibu. Penularan COVID-19 melalui ASI dan menyusui belum terbukti. Jadi tidak ada alasan untuk menghindari atau berhenti menyusui.

Akan tetapi semua keputusan untuk bisa menyusui langsung itu diserahkan kepada si ibu. Bila ibu ragu atau tidak memungkinkan menyusui langsung, maka bisa memberikan ASI perah. Bila ibu menyusui langsung, maka si ibu harus mematuhi protokol kesehatan.  Saat menyusui, seorang ibu harus tetap menerapkan langkah-langkah kebersihan yang tepat, termasuk mengenakan masker medis jika tersedia atau masker kain, untuk mengurangi kemungkinan menularkan droplet yang mengandung virus penyebab COVID-19 kepada bayinya. Ibu dianjurkan untuk mengganti masker segera setelah masker tersebut lembab dan kemudian segera membuang masker medisnya setelah digunakan. Masker medis yang sudah dipakai, tidak bisa digunakan lagi setelah lebih 4 jam. Kemudian ibu tidak menyentuh bagian depan masker, tetapi melepaskannya dari belakang. Untuk maser kain supaya bisa sering dicuci.

            Aturan lain yang harus selalu dipenuhi adalah mencuci tangan sesering mungkin dengan sabun dan air atau menggunakan hand sanitizer/rub berbasis alkohol, terutama sebelum menyentuh bayinya. Bersin atau batuk dengan menggunakan tisu, dan segera membuangnya serta mencuci tangan dengan hand sanitizer berbasis alkohol atau dengan sabun dan air bersih. Bila ibu  baru saja batuk di atas payudara atau dadanya yang terbuka, maka dia perlu mencuci payudaranya dengan sabun dan air hangat setidaknya selama 20 detik sebelum menyusui. Nah, setelah melakukan berbagai langkah pencegahan, maka aman bagi ibu untuk menyusui bayinya.

Tertarik dengan kegiatan dan layanan informasi yang kami berikan?
Anda dapat memperoleh informasi terbaru melalui email.