ummihirzi@gmail.com

ummihirzi@gmail.com
Isi blog ini adalah makalah yang pernah saya buat dan presentasikan di IKA FK Unand, juga artikel kesehatan yang sudah dimuat di kolom Opini Media Lokal/Regional.

Mengenai Saya

Foto saya
Lahir di Bireuen, Aceh, tanggal 05 September 1977. Alumni FK Universitas Syiah Kuala Aceh. Dan telah memperoleh gelar Spesialis Anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Aktif sebagai pengurus IDAI Aceh, IDI Aceh Besar, Anggota Komunitas Rhesus Negatif Aceh dan sebagai Konselor Menyusui juga Ketua Aceh Peduli ASI (APA)...

Jumat, 19 Januari 2018

Ada Harapan di Bali Derita Para Pengungsi Rohingya


Konflik berkepanjangan yang terjadi di Myanmar, telah membuat banyak kesedihan yang mendalam. Berbagai penderitaan yang dialami warga Rohingya membuat mereka harus lari (terusir) dari negaranya sendiri. Sebagian besar mereka mengungsi ke negara tetangganya yaitu Bangladesh. Untuk saat ini jumlah total seluruh pengungsi Rohingya yang berada di Bangladesh adalah 1,2 juta jiwa. Sungguh jumlah yang sangat luar biasa. Lokasi pengungsi tinggal adalah Cox’s bazar, salah satu kabupaten di Provinsi Chittagong, Bangladesh.

Bangladesh merupakan negara dengan jumlah penduduk sekitar 159 juta, adalah negara dengan populasi terpadat dan termasuk negara miskin di dunia. Negara ini masuk dalam sepuluh besar negara di dunia dengan penduduk terbanyak (menempati urutan ke-8). Mayoritas penduduknya adalah Muslim yaitu sekitar 88% dan selebihnya yaitu agama Kristen, Hindu dan Budha. Bahasa resminya adalah Bangla dan mata uangnya yaitu Taka. Nila mata uang Taka yaitu berkisar 160 rupiah per 1 Taka (atau 83 Taka setiap 1 US Dolar).
Sejak bulan September, IHA (Indonesian Humanitarian Alliance/Aliansi Kemanusiaan Indonesia) sudah mengirimkan relawan ke Kamp Pengungsian Rohingya di Bangladesh. Direncanakan tahap awal program IHA di Bangladesh ini akan dilaksanakan selama 6 bulan dan sangat mungkin diperpanjang. IHA merupakan gabungan dari beberapa lembaga kemanusiaan yaitu MuhammadiyahAid yang didukung oleh LazisMu, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Darut Tauhid, PKPU, Nadhdatul Ulama, Lazis Wahdah, dan Laznas LMI, yang mendapat dukungan dari Kementerian luar Negeri Indonesia. Aliansi ini bertujuan mengoptimalkan fungsi pemberian bantuan layanan kemanusiaan. Untuk di Bangladesh, IHA berfokus pada kegiatan pemenuhan layanan korban terdampak konflik Myanmar. Program pelayanan kesehatan yang diberikan berupa pemeriksaan kesehatan, pemberian nutrisi tambahan juga edukasi kesehatan berupa cara mencuci tangan, menggosok gigi dan berbagai ilmu praktis lainnya di lapangan. Untuk program kesehatan dikoordinatori oleh tim Medis dari MuhammadiyahAid. Saya sendiri merupakan tim Medis MuhammadiyahAid yang berada di tim 9 dengan masa pelayanan selama 15 hari yaitu 9 sampai 24 Januari 2018. 
Tim 9 ini terdiri dari 7 orang yaitu 3 orang dari MuhammadiyahAid, 2 orang dari Dompet Dhuafa, 1 orang dari Nahdatul Ulama (NU) dan 1 orang dari Darut Tauhid. Setelah menempuh perjalanan selama 11 jam Alhamdulillah akhirnya kami sampai di Cox’s Bazar. Berangkat subuh dari Bandara Soekarno Hatta Jakarta dengan pesawat Malindo Air ke Kuala Lumpur yang ditempuh dengan waktu 2 jam. Di Kuala Lumpur transit sekitar 1 jam dan kemudian melanjutkan  penerbangan kembali dengan Malindo Air menuju Dhaka Bangladesh yang memakan waktu 4 jam. Sesampai di Dhaka langsung menuju ke counter imigrasi dan check in menuju ke wilayah yang kami tuju yaitu Cox’s Bazar. Bandara di Dhaka bernama Hazrat Shahjalal International Airport. Bandara ini sangat padat dan kurang tertata dengan rapi dengan pelayanan yang diberikan di bawah standar. Selanjutnya kami menuju ke dalam pesawat. Pesawat yang kami tumpangi bernama Novo Air merupakan pesawat kecil dengan kapasitas penumpang sekitar  70 orang. Perjalanan ditempuh selama 1 jam. Yang uniknya di bandara ini, barang bagasi  mesti kita ambil masing masing begitu diturunkan dari pesawat jadi tidak melewati tempat pengambilan bagasi layaknya bandara bandara biasanya.
Dari bandara ini kamipun menumpang kendaraan seperti bajaj kalau di Indonesia. Namanya Tom Tom yang berisikan 4 – 5 penumpang. Naik kendaraan di Bangladesh ini harus kuat mental, karena supir yang membawanya bisa cepat sekali dan kurang beraturan. Dan hal ini terlihat sama di seluruh kota Cox’s Bazar. Lalu lintas yang semrawut ditambah dengan bunyi klakson semua kendaraan terus menerus. Bahkan di penginapan kami yang memang terletak di dekat jalan raya, sama sekali tidak pernah absen suara klakson kendaraan bahkan sampai tengah malam.
Setelah istirahat satu malam, keesokan harinya kami memulai aktivitas di kamp pengungsian. Kamp ini berada sekitar 1,5 jam perjalanan dari lokasi penginapan. Lokasi pelayanan tim medis IHA adalah Kamp Jamtoli yang dihuni oleh lebih 50 ribu pengungsi. Dari 50 ribu jumlah pengungsi, sebanyak 60% di antaranya adalah anak anak. Jenis penyakit yang saat ini diderita para pengungsi adalah infeksi saluran nafas, diare, masalah perut dan juga kulit. Dan saat ini di kamp pengungsian sedang terjangkit wabah penyakit difteri. Pada saat pendaftaran serta triase, pasien yang dicurigai dengan difteri maka akan dimasukkan langsung ke ruang terpisah dari pasien lain. Selanjutnya dokter akan memeriksa untuk memastikan diagnosisnya. Apabila memang betul terdiagnosis sebagai difteri maka pasien tersebut akan dirujuk ke RS Lapangan yang ada di lokasi kamp.
Sesuai profesi saya sebagai dokter spesialis anak, maka pasien yang saya layani khusus pasien anak saja. Berkaitan dengan kondisi pengungsian yang padat juga perilaku serta kebersihan diri dan lingkungan yang masih sangat kurang, berbagai penyakitpun menyerang mereka. Sambil memeriksa pasien dimana saya didampingi oleh seorang penerjemah yang bisa berbahasa Rohingya, sayapun menanyakan bagaimana kisah mereka bisa sampai ke pengungsian ini. Mendengar bagaimana penyiksaan yang dialami di Myanmar, keluarga terdekat dibunuh, dibakar hidup hidup dan juga ditembak, rasanya perih sekali rasa yang berkecamuk di dada. Semoga Allah memberikan kekuatan buat mereka semua muslim Rohingya. Tersiksa di dunia, surga menanti mereka.
(dr. Aslinar, SpA. Tim Medis MuhammadiyahAid, melaporkan dari Kamp Pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar Bangladesh).


Tidak ada komentar:
Write komentar

Tertarik dengan kegiatan dan layanan informasi yang kami berikan?
Anda dapat memperoleh informasi terbaru melalui email.