ummihirzi@gmail.com

ummihirzi@gmail.com
Isi blog ini adalah makalah yang pernah saya buat dan presentasikan di IKA FK Unand, juga artikel kesehatan yang sudah dimuat di kolom Opini Media Lokal/Regional.

Mengenai Saya

Foto saya
Lahir di Bireuen, Aceh, tanggal 05 September 1977. Alumni FK Universitas Syiah Kuala Aceh. Dan telah memperoleh gelar Spesialis Anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Aktif sebagai pengurus IDAI Aceh, IDI Aceh Besar, Anggota Komunitas Rhesus Negatif Aceh dan sebagai Konselor Menyusui juga Ketua Aceh Peduli ASI (APA)...

Rabu, 04 Januari 2017

HIV & Menyusui


Infeksi HIV (Human immunodeficiency virus) adalah infeksi virus yang memperlemah sistem kekebalan tubuh, dan pada akhirnya menyebabkan AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome). AIDS merupakan sekelompok kondisi medis yang menunjukkan lemahnya kekebalan tubuh, sering berwujud infeksi ikutan (infeksi oportunistik) dan kanker, yang hingga saat ini belum bisa disembuhkan. Penularan virus ini yaitu melalui cairan tubuh berupa hubungan seksual, transfusi darah, berbagi alat suntik pada pengguna narkoba. Salah satu akibatnya adalah jumlah perempuan yang terinfeksi HIV dari tahun ke tahun semakin meningkat, seiring dengan meningkatnya jumlah laki-laki yang melakukan hubungan seksual tidak aman, yang selanjutnya akan menularkan pada pasangan seksualnya.
Faktor penularan virus HIV lain adalah penularan dari Ibu kepada anaknya (penularan vertikal) yang terjadi selama masa perinatal (kehamilan, persalinan maupun saat menyusui). Transmisi vertikal selama kehamilan sebesar 10-25%, saat persalinan 35-40% dan melalui proses menyusui 35-40%. Risiko penularan virus HIV dari ibu ke bayinya dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu faktor maternal dan neonatal. Jumlah virus (viral load) yang terdapat pada Ibu hamil dengan infeksi HIV baru atau tahap lanjut AIDS, menjadi faktor risiko yang utama dalam penularan HIV pada semua tahapan kehamilan. Saat persalinan, adanya kejadian pecah ketuban dini, infeksi cairan ketuban, prosedur persalinan invasif menjadi faktor risiko penularan. Pada masa menyusui, lamanya menyusui disertai dengan mixed feeding dan infeksi payudara serta adanya luka atau penyakit di mulut bayi menjadi hal yang mempermudah penularan infeksi HIV dari Ibu kepada anaknya.
Di Indonesia, infeksi HIV merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan salah satu penyakit menular yang dapat mempengaruhi kematian ibu dan anak. Infeksi HIV telah ada di Indonesia sejak kasus pertama ditemukan tahun 1987. Berdasarkan data Kemenkes sejak tahun 2005 sampai September 2015 terdapat 184.929 kasus HIV dan kasusnya tersebar di 381 (77%) dari 498 kabupaten/kota di seluruh Provinsi di Indonesia. Wilayah pertama ditemukan kasus tersebut adalah Bali. Data terbaru dari Ditjen PP & PL Kemenkes RI secara kumulatif dari 1 April 1987 sampai 31 Maret 2016, total pasien dengan infeksi HIV adalah 191.073 kasus dan penderita AIDS adalah 77.940 kasus. Untuk Provinsi Aceh didapatkan 253 kasus HIV dan 276 kasus AIDS (prevalensi 6.14 per 100.000 penduduk). Sedangkan untuk Sumatera Utara terdapat 11.295 kasus HIV dan 3.761 kasus AIDS (prevalensi 28.97 per 100.000 penduduk). Dari seluruh kasus HIV yang dilaporkan ditemukan di Indonesia, terdapat 2,6% angka penularan HIV sampai anaknya. Sekitar 90% kasus HIV pada anak kurang dari 13 tahun terjadi pada masa perinatal tersebut (Mother to Child HIV Transmission).
ASI merupakan makanan yang terbaik bagi bayi baru lahir dan ASI diberikan secara eksklusif sampai 6 bulan (hanya memberi ASI saja tanpa makanan dan minuman lain) kemudian diteruskan sampai dua tahun. Lantas bagaimana bila si Ibu yang baru melahirkan tersebut terdeteksi menderita penyakit HIV? Sampai saat ini menyusui pada Ibu pengidap HIV masih menjadi masalah yang penting untuk dibicarakan dan masih juga menjadi perdebatan. Hal tersebut disebabkan karena efek ganda dari pemberian ASI itu sendiri dimana efek positifnya bahwa ASI merupakan sumber nutrisi terbaik bagi bayi akan tetapi terdapat sisi negatif bahwa ASI menjadi media perantara penularan virus HIV dari Ibu pengidap ke bayinya.  HIV dapat ditularkan melalui ASI selama proses laktasi, sehingga tingkat infeksi pada bayi yang menyusu meningkat seiring dengan lamanya menyusu.
Peraturan menteri Kesehatan RI no. 51Tahun 2013 tentang Pedoman Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak bahwa  Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak dilakukan melalui 4 (empat) prong/kegiatan, sebagai berikut: a).  Pencegahan penularan HIV pada perempuan usia reproduksi; b). Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif; c). Pencegahan penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang dikandung; dan d). Pemberian dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV positif beserta anak dan keluarganya.
Adapun intervensi yang bisa dilakukan dalam upaya untuk mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu ke anak adalah dengan melaksanakan kegiatan 4 program yang merujuk pada rekomendasi WHO, dimana pada dasarnya semua ibu hamil ditawarkan tes HIV dilanjutkan dengan memberikan konseling selama kunjungan antenatal, persalinan, dan post partum, kemudian pemberian antiretroviral (ARV) pada ibu hamil HIV positif, pemilihan kontrasepsi yang sesuai untuk perempuan HIV positif, pemilihan persalinan aman untuk ibu hamil HIV positif, dan pemberian makanan terbaik bagi bayi yang lahir dari ibu HIV positif serta memberikan rujukan untuk pelayanan medis bagi Ibu dan keluarganya.
             Rekomendasi WHO tahun 2016 tentang pemberian ASI (menyusui) pada Ibu pengidap HIV yaitu sebagai berikut Ibu pengidap HIV bisa menyusui selama 12 bulan dan bisa melanjutkan menyusui sampai 2 tahun atau lebih lama (seperti halnya ibu ibu lain) selamasi Ibu mengkonsumsi ARV.
            Pemilihan jenis makanan pada bayi baru lahir dari Ibu penderita HIV sepenuhnya diserahkan ke tangan Ibu. Peran petugas kesehatan adalah memberikan konseling dan edukasi lengkap tentang risiko penularan. Risiko penularan meningkat bila diberikan ASI eksklusif sebesar 5-15%, pemberian mixed feeding meningkatkan risiko penularan 24%  sedangkan bila diberikan susu formula risiko penularan 0%. Berbagai penelitian menunjukkan hasil yang bervariasi dari peningkatan risiko yang minimal hingga dua kali peningkatan dibandingkan susu formula. Yang perlu kita perhatikan adalah angka tertinggi penularan penyakit HIV pada kasus menyusui adalah 40% yang berarti 60%nya tidak tertular. Akan tetapi karena virus HIV ini merupakan virus yang fatal, maka keseluruhan situasinya harus benar benar dipikirkan dengan baik saat Ibu hamil diketahui menderita HIV positif.
ASI memenuhi kebutuhan nutrisi optimal selama 6 bulan pertama dan menurunkan risiko kesakitan dan kematian akibat berbagai penyakit seperti diare, pneumonia. Bila ibu memutuskan untuk memberikan susu formula maka pemberian susu formula tersebut harus memenuhi persyaratan AFASS (Acceptable, Feasible, Affordable, Sustainable, Safe). Acceptable (mudah diterima) berarti tidak ada hambatan sosial budaya bagi Ibu untuk memberikan susu formula bagi bayi. Feasible (mudah dilakukan) berarti bahwa ibu dan keluarga memiliki waktu, pengetahuan dan ketrampilan yang memadai untuk menyiapkan dan memberikan susu formula kepada bayinya. Affordable (terjangkau) berarti Ibu dan keluarga mampu menyediakan susu formula. Sustainable (berkelanjutan) berarti bahwa susu formula harus diberikan setiap hari sampai 6 bulan dan diberikan dalam bentuk segar serta persediaan dan distribusi susu formula tersebut dijamin keberadaannya. Safe (aman) berarti susu formula harus disimpan, dipersiapkan, dan diberikan secara benar dan higienis. Kementerian Kesehatan merekomendasikan pemberian susu formula bila syarat AFASS terpenuhi.
Pada Ibu yang memutuskan memberikan ASI, cara untuk memberikannya adalah dengan memerah dan kemudian melakukan pemanasan.  Memanaskan ASI hingga 60 derjat Celsius selama lebih kurang 30 menit dapat membunuh virus yang terdapat dalam ASI (pasteurisasi). Cara lain yang dianggap lebih mudah dikerjakan adalah dengan metode flash-heating, yaitu dengan cara menaruh ASI dalam tempat kemudian ditaruh di panci kecil berisi air kemudian dipanaskan. Setelah mendidih segera diangkat dan dibiarkan dingin sampai suhu badan manusia. Cara ini tidak mengganggu kadar vitamin A, meskipun menurunkan kadar vitamin B2 dan B6.
Bila seorang perempuan sudah terdeteksi menderita HIV maka segera diberikan terapi ARV. Manfaat pengobatan tidak sekadar untuk kesehatan si Ibu sendiri. Mengobati HIV akan mengurangi risiko bayi terinfeksi HIV menjadi hampir nol. Tanpa pengobatan, kurang lebih satu dari empat bayi yang terlahir dari ibu HIV-positif akan terinfeksi saat lahir. Walaupun ini berarti tiga dari empat tidak terinfeksi, risiko ini terlalu besar, terutama karena dengan pengobatan HIV hampir semua bayi tersebut dapat bebas HIV waktu lahir.
Dalam hal pemberian ASI pada situasi ibu mengidap infeksi HIV memerlukan pertimbangan atas keuntungan dan kerugiannya. Meskipun memberi ASI artinya menambah risiko bayi tertular HIV, tetapi untuk negara berkembang dengan sumber daya penyediaan susu formula terbatas, peningkatan risiko tersebut dikompensasi dengan berkurangnya risiko  akibat penggunaan susu formula yang tidak aman. Terlepas dari semua hal yang disebutkan sebelumnya, pencegahan supaya tidak terinfeksi virus HIV jauh lebih baik ditempuh. Baik itu berupa penghindaran dari hubungan seksual bebas, penghindaran dari pemakaian narkoba dan menjalankan hidup sehat.

*Dr. Aslinar, SpA, M. Biomed
Ketua Aceh Peduli ASI
Pengurus IDAI Aceh dan IDI Aceh Besar

Tidak ada komentar:
Write komentar

Tertarik dengan kegiatan dan layanan informasi yang kami berikan?
Anda dapat memperoleh informasi terbaru melalui email.