ummihirzi@gmail.com

ummihirzi@gmail.com
Isi blog ini adalah makalah yang pernah saya buat dan presentasikan di IKA FK Unand, juga artikel kesehatan yang sudah dimuat di kolom Opini Media Lokal/Regional.

Mengenai Saya

Foto saya
Lahir di Bireuen, Aceh, tanggal 05 September 1977. Alumni FK Universitas Syiah Kuala Aceh. Dan telah memperoleh gelar Spesialis Anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Aktif sebagai pengurus IDAI Aceh, IDI Aceh Besar, Anggota Komunitas Rhesus Negatif Aceh dan sebagai Konselor Menyusui juga Ketua Aceh Peduli ASI (APA)...

Senin, 03 Februari 2020

Corona Oh Corona



Serangan virus Corona menjadi trending topic saat ini di seluruh dunia, termasuk di Indonesia bahkan juga di Aceh banyak masyarakat awam yang mulai membicarakan virus ini. Postingan di media sosial setiap harinya tidak terlepas dari pembahasan ataupun sekedar membagikan informasi tentang virus ini. Pada tanggal 31 Desember 2019, WHO China Country Office melaporkan kasus pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Sampai dengan 30 Januari 2020, secara global 7830 kasus konfirm di 20 negara dengan 170 kematian. Rinciannya berupa: China 7761 kasus konfirmasi (termasuk Hongkong, Taiwan, dan Macau) dengan 170 kematian, Jepang (7 kasus), Thailand (14 kasus), Korea Selatan (4 kasus), Vietnam (2 kasus), Singapura (10 kasus), USA (5 kasus), Nepal (1 kasus), Perancis (5 kasus), Australia (7 kasus), Jerman (4 kasus), UAE (4 kasus), Kanada (3 kasus), Kamboja (1 kasus), Finlandia (1 kasus), Srilanka (1 kasus).

            Serangan virus corona sudah pernah terdengar sebelumnya, dan mungkin kita sudah familiar dengan istilah SARS ataupun penyakit MERS yang terjadi dan mewabah beberapa waktu lalu dan juga menghebohkan dunia. SARS juga berasal dari China, terjadi pada tahun 2002-2003 dengan jumlah kasus sebanyak 8098 dengan fatality rate 9,6%. SARS kemudian ikut menjalar sampai 26 negara lain. MERS terjadi pertama kali di Saudia Arabia ditemukan pada tahun 2012 dengan jumlah kasus sebanyak 2494 dan fatality rate 34%. Kasus MERS menjangkiti sampai 27 negara lain,
Kasus serangan virus sekarang dengan penyebab Novel coronavirus (2019-nCoV), belum pernah terindentifikasi sebelumnya pada manusia. Merupakan virus baru penyebab penyakit saluran pernafasan yang berasal dari Cina. Novel CoV merupakan satu keluarga dengan virus penyebab SARS dan MERS.
            Corona virus merupakan virus RNA rantai positif, menyerang sel epitel pada saluran pernapasan dan saluran cerna menjadi target sel utama. Virus corona adalah zoonosis (ditularkan antara hewan dan manusia). Penelitian menyebutkan bahwa SARS-CoV ditransmisikan dari kucing luwak (civet cats) ke manusia dan MERS-CoV dari unta ke manusia. Sedangkan nCoV ini diperkirakan transmisinya dari kelelawar. Beberapa coronavirus yang dikenal beredar pada hewan namun belum terbukti menginfeksi manusia. Selain itu dikenal virus lain yang masih satu keluarga yaitu alpha corona virus dan beta corona virus.
            Pada tanggal 27 Januari 2020, Kementerian Kesehatan RI sudah mengeluarkan Pedoman Kesiapsiapan Menghadapi Infeksi Novel Coronavirus. Pedoman ini bertujuan untuk siaga dalam menemukan pasien, dengan berdasarkan definisi operasional yang sudah dibuat.
Yang dimaksud dengan Pasien dalam Pengawasan (suspek = tersangka) yaitu 1). seseorang yang mengalami: demam (≥380C) atau ada riwayat demam, batuk/pilek/nyeri tenggorokan, pneumonia ringan hingga berat berdasarkan gejala klinis dan/atau gambaran radiologis. Perlu waspada pada pasien dengan gangguan sistem kekebalan tubuh (immunocompromised) karena gejala dan tanda menjadi tidak jelas. DAN disertai minimal satu kondisi sebagai berikut: memiliki riwayat perjalanan ke China atau wilayah/negara yang terjangkit (sesuai dengan perkembangan penyakit) dalam waktu 14 hari sebelum timbul gejala, ATAU merupakan petugas kesehatan yang sakit dengan gejala sama setelah merawat pasien Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) berat yang tidak diketahui penyebab/etiologi penyakitnya, tanpa memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian; ATAU 2). Seseorang dengan ISPA ringan sampai berat dalam waktu 14 hari sebelum sakit, memiliki salah satu dari paparan berikut memiliki riwayat kontak erat dengan kasus konfirmasi 2019-nCoV; ATAU bekerja atau mengunjungi fasilitas kesehatan yang berhubungan dengan pasien konfirmasi 2019-nCoV di China atau wilayah/negara yang terjangkit (sesuai dengan perkembangan penyakit); ATAU memiliki riwayat kontak dengan hewan penular (jika hewan penular sudah teridentifikasi) di China atau wilayah/negara yang terjangkit (sesuai dengan perkembangan penyakit); ATAU memiliki riwayat perjalanan ke Wuhan dan memiliki (demam ≥380C) atau ada riwayat demam.
            Pernyataan dari Badan Kesehatan Dunia WHO pada tanggal 30 Januari 2020, bahwa wabah Novel coronavirus  dinyatakan Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Walaupun sebelumnya pada tanggal 23 Januari 2020, 2019-nCoV belum bisa dikategorikan sebagai PHEIC, dan saat itu dinyatakan merupakan kasus high risk di Cina, regional dan global, sehingga WHO tetap terus memantau perkembangan penyakit ini..
Dengan adanya kasus novel coronavirus ini, hal apakah yang bisa dan perlu dilakukan oleh Pemerintah dan juga masyarakat pada umumnya? Pemerintah Aceh melalui Dinas Kesehatan sudah melakukan pertemuan koordinasi menghadapi Novel coronavirus dengan semua pihak baik itu dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP), para Direktur Rumah Sakit, kepala Litbangkes Aceh, para Ketua organisasi profesi baik IDI, IDAI, PAPDI, PPNI. Pertemuan ini untuk melakukan berbagai upaya kewaspadaan dan kesiapsiagaan untuk antisipasi penyebaran kasus tersebut di wilayah Aceh. Di setiap pintu masuk bandara terutama yang berasal dari penerbangan luar negeri, disediakan alat thermal scanner (pendeteksi suhu tubuh), sehingga bila terdeteksi ada penumpang yang mengalami demam, maka bisa ditelusuri lebih lanjut.  Pemerintah Aceh menunjuk dua rumah sakit di Aceh untuk penanganan pasien dicurigai infeksi novel coronavirus, yaitu Rumah Sakit Umum Daerah Dzainoel Abidin (RSUDZA) dan Rumah Sakit Umum Daerah Cut Mutia Lhokseumawe.  
            Untuk saat ini belum tersedia vaksin untuk mencegah infeksi novel coronavirus tersebut. Rekomendasi dari Kemenkes dan juga Ikatan Dokter Anak Indonesia, upaya pencegahan yang bisa dilakukan dan sangat mudah sehingga bisa dipraktikkan oleh semua orang adalah sering cuci tangan pakai sabun selama minimal 20 detik (bila tidak tersedia air, gunakan cairan sanitasi yang berbahan dasar alkohol), menggunakan masker bila batuk atau pilek ataupun tutup mulut dan hidung dengan tissue atau lengan baju (tidak dengan tangan). Tisu yang digunakan dibuang ke tempat sampah dan cuci tangan setelahnya, mengkomsumsi makanan yang mengandung gizi seimbang, memperbanyak sayur dan buah, melengkapi status imunisasi anak terutama yang terkait dengan pneumonia (DPT, Hib, Campak, PCV dan influenza). Harus berhati hati bila kontak dengan hewan, rajin olahraga dan istirahat dengan cukup. Sebaiknya tidak mengkonsumsi daging yang tidak dimasak dan bila mengalami gejala batuk, pilek dan sesak nafas bisa segera ke pelayanan kesehatan. Jika tidak ada keperluan sangat mendesak sebaiknya tidak merencanakan bepergian ke negara China, apalagi membawa anak anak.
            Adapun bila tidak bisa dihindari untuk mendatangi negara China ataupun negara lain yang sudah ada kasus novel Coronavirus ini maka usahakan supaya selalu menghindari kontak dengan hewan baik hidup atau mati, pasar hewan, dan serta menghindari kontak dengan orang yang sakit. Tidak perlu panik ya, tetapi tetap waspada.

Tidak ada komentar:
Write komentar

Tertarik dengan kegiatan dan layanan informasi yang kami berikan?
Anda dapat memperoleh informasi terbaru melalui email.