ummihirzi@gmail.com

ummihirzi@gmail.com
Isi blog ini adalah makalah yang pernah saya buat dan presentasikan di IKA FK Unand, juga artikel kesehatan yang sudah dimuat di kolom Opini Media Lokal/Regional.

Mengenai Saya

Foto saya
Lahir di Bireuen, Aceh, tanggal 05 September 1977. Alumni FK Universitas Syiah Kuala Aceh. Dan telah memperoleh gelar Spesialis Anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Aktif sebagai pengurus IDAI Aceh, IDI Aceh Besar, Anggota Komunitas Rhesus Negatif Aceh dan sebagai Konselor Menyusui juga Ketua Aceh Peduli ASI (APA)...

Jumat, 31 Juli 2020

ASI Menyehatkan Bumi

Minggu pertama bulan Agustus setiap tahunnya diperingati sebagai World Breastfeeding Week. Sebelumnya di Indonesia dikenal dengan istilah Pekan ASI Sedunia, akan tetapi mulai tahun ini, istilah tersebut diganti dengan Pekan Menyusui Sedunia. Tujuan diperingati setiap tahunnya adalah untuk terus memberikan kesadaran kepada masyarakat dunia tentang pentingnya pemberian ASI. Pada tahun 2020 ini mengambil tema “Dukung Menyusui, untuk Bumi yang Lebih Sehat”.

Menyusui adalah perintah Allah termaktub dalam Al Quran surat Al Baqarah Ayat 233. Air Susu Ibu (ASI) adalah anugerahNYA yang tidak ternilai harganya. ASI merupakan zat hidup yang sangat dibutuhkan oleh bayi baru lahir  sampai berusia dua tahun. Untuk enam bulan pertama ASI bisa memenuhi 100% kebutuhan bayi sehingga disebutkan dengan istilah ASI Eksklusif dimana hanya memberikan ASI saja tanpa ada makanan dan minuman lainnya.

Sebagaimana sudah kita ketahui bahwa menyusui sangat banyak bermanfaat baik bagi si bayi maupun si Ibu. ASI mengandung zat zat gizi yang lengkap, mudah dicerna, diserap secara efisien. ASI mengandung semua nutrisi penting yang diperlukan bayi untuk tumbuh kembangnya, disamping itu juga mengandung antibodi yang akan membantu bayi membangun sistem kekebalan tubuh dalam masa pertumbuhannya. . Dalam satu tetes ASI mengandung air, protein, laktosa, antibodi, asam lemak essensial, vitamin dan mineral, hormon dan faktor pertumbuhan, mikrobiota normal, serta enzim anti viral dan anti bakterial. 

ASI melindungi terhadap infeksi, melindungi kesehatan ibu, membantu bonding dan menunda kehamilan yang baru. Menyusui membantu ibu dan bayi membentuk hubungan yang erat dan penuh kasih sayang yang membuat ibu merasa puas secara emosional. Kontak kulit antara ibu dan bayi segera setelah persalinan membantu mengembangkan hubungan tersebut. Proses ini yang disebut dengan bonding.

Proses menyusui juga bersifat ramah lingkungan. Menyusui sangat berguna bagi lingkungan. Semakin sedikit pembelian produk-produk pabrikan seperti halnya susu dan botol-botol susu, sama dengan mengurangi sampah di sekitar kita. Susu formula dan botol susu harus diproduksi dan dikemas, dimana hal tersebut menggunakan banyak energi dan sumber daya. Setelah itu kemudian didistribusikan ke toko-toko. Konsumen menggunakan bahan bakar untuk sampai ke toko dan membeli susu formula. Kemasan dan botol bekas yang sudah digunakan juga  harus dibuang.

               Tidak seperti ASI, susu formula bayi dan balita (yang sering didasarkan pada susu sapi) memiliki dampak negatif terhadap lingkungan, berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global selama tahap pembuatan, pemrosesan dan transportasi. Pengganti ASI menggunakan sumber daya yang signifikan dan menghasilkan limbah besar yang berakhir di tempat pembuangan sampah, serta polusi plastik.  Peternakan sapi perah industri mengancam keanekaragaman hayati dan produk limbah sapi berkontribusi pada emisi metana global tahunan - kontributor utama efek rumah kaca, kedua setelah karbon dioksida. Limbah dari sapi perah, serta pupuk yang digunakan untuk menanam pakan untuk mereka, mencemari sungai dan air tanah, mempengaruhi semua ekosistem yang bergantung padanya. Di beberapa tempat produksi formula membutuhkan penggunaan bahan bakar fosil yang tinggi. 

Menyusui adalah contoh utama dari hubungan yang mendalam antara kesehatan manusia dan ekosistem alam karena ASI merupakan makanan alami yang diproduksi tanpa polusi, kemasan ataupun limbah. Mendukung pemberian ASI maka mendukung upaya untuk bumi yang lebih sehat. Keuntungan bagi lingkungan karena mengurangi sampah dari susu buatan. Dengan menyusui pula dapat menekan pengeluaran untuk membeli kebutuhan susu  formula, sehingga lebih hemat dan ramah  lingkungan, sejalan dengan tujuan SDGs nomor 12 yaitu konsumsi yang bertanggung jawab.

Dikutip dari website IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) bahwa terdapat banyak beban dari dampak tidak menyusui di Indonesia diantaranya: 1). bertambahnya kerentanan baik pada ibu atau anak terhadap  penyakit. Dengan menyusui, dapat mencegah 1/3 kejadian infeksi saluran pernapasan (ISPA), menurunkan angka  kejadian diare sampai 50%, dan juga menurunkan angka penyakit usus parah pada bayi premature (kurang bulan) sebanyak 58%. Risiko kanker payudara pada ibu juga dapat menurun 6-10%. 2). Biaya kesehatan untuk pengobatan. Dengan mendukung ASI dapat mengurangi kejadian diare dan pneumonia sehingga biaya kesehatan dapat dikurangi 256,4 juta USD atau 3 triliun tiap tahunnya. 3). Kerugian kognitif - hilangnya pendapatan  bagi individual. ASI eksklusif dapat meningkatkan IQ anak, potensi mendapatkan pekerjaan yang lebih baik karena memiliki fungsi kecerdasan tinggi. Tentunya hal ini akan meningkatkan potensi mendapatkan penghasilan yang lebih optimal. Ternyata dengan peningkatan IQ dan pendapatan per kapita, negara dapat menghemat 16,9 triliun rupiah lho! 4). Biaya susu formula, Di Indonesia, didapatkan data bahwa hampir 14% dari penghasilan seseorang (terutama orang tua, ayah atau ibu), habis digunakan untuk membeli susu formula bayi berusia kurang dari 6 bulan. Dengan ASI eksklusif, tentu saja penghasilan orangtua dapat dihemat sebesar 14%.

               Tidak ada makanan lebih banyak diproduksi secara lokal, lebih berkelanjutan atau lebih ramah lingkungan selain daripada ASI. ASI disebut sebagai produk makanan/minuman yang paling ramah. ASI adalah sumber daya yang dapat diperbarui secara alami, didapatkan secara gratis dan merupakann sumber nutrisi utama yang dibutuhkan oleh bayi untuk selama enam bulan pertama kehidupan, dan dilanjutkan sampai dua tahun kehidupannya.
               ASI bermanfaat bagi lingkungan kita karena tidak memerlukan iklan, pengemasan, atau transportasi dan tidak menghasilkan pemborosan atau penipisan sumber daya alam. Tidak ada energi yang terbuang untuk mensterilkan botol dan mendinginkannya. ASI juga memiliki suhu yang sempurna sehingga tidak perlu menggunakan energi untuk memanaskan apa pun dan air dan deterjen biasanya tidak diperlukan untuk mencuci botol. Selain itu, ASI tidak menciptakan polusi dari pembuatan dan pembuangan botol, dot dan kaleng.

Menyusui adalah salah satu cara terbaik untuk melindungi ekosistem planet kita dan kesehatan kita. Dengan menyusui membantu memastikan keamanan pangan, memiliki efek positif pada kesehatan dan kesejahteraan ibu dan anak. Jadi secara tidak langsung ibu yang menyusui juga tengah mengabdikan dirinya untuk ikut menjaga kesehatan lingkungan di sekitarnya dan lingkungan alam yang lebih luas.

Oleh karena itu, mari kita mendukung ibu menyusui, untuk bumi yang lebih sehat. Bagaimana caranya mendukung ibu menyusui? Untuk seorang suami, bahagiakan istrinya yang sedang menyusui dengan cara membantu pekerjaan rumah, membiarkan istri istirahat, ikut serta dalam pengasuhan bayi dan selalu berusaha menyenangkan hati istrinya. Hati yang senang maka hormon oksitosin akan banyak diproduksi sehingga ASIpun deras mengalir. Untuk keluarga lain atau masyarakat di sekitar ibu menyusui juga tetap bisa mendukung ibu menyusui dengan menunjukkan respon positifnya. Sanggup? Harus dong!!.

Minggu, 17 Mei 2020

Nasib imunisasi di Tengah Pandemi

 

Saat ini penyakit COVID-19 masih menjadi masalah kesehatan bagi dunia, bagi negara kita dan juga bagi provinsi kita, Aceh. Walaupun kita masih bisa bernafas sedikit lega karena belum menjadi wilayah dengan transmisi lokal, akan tetapi semua pihak harus tetap waspada. Semua masyarakat harus terus mengikuti berbagai himbauan pemerintah dengan menerapkan social distancing yaitu tidak berada di keramaian kecuali untuk hal yang sangat penting, dan tetap berusaha melakukan physical distancing (menjaga jarak) dengan orang di sekitar kita.

            Dengan kondisi yang mengharuskan masyarakat untuk di rumah saja, bagaimana halnya dengan pelaksanaan kegiatan imunisasi secara menyeluruh? Apakah hal tersebut juga berdampak terhadap penyelenggaran imunisasi? Banyak orang tua menjadi khawatir untuk keluar rumah karena himbauan untuk social distancing tersebut. Mereka lebih memilih menunda mengimunisasi anaknya karena khawatir akan berkumpul dengan banyak orang lain baik itu di posyandu, puskesmas maupun di praktik dokter anak.

Bagaimana sebenarnya dengan kegiatan imunisasi ini? Apakah benar boleh ditunda? Kalau menunda bolehnya sampai berapa lama? Yang kita khawatirkan adalah menunda imunisasi karena untuk menghindari penyebaran virus corona, akan tetapi tanpa kita sadari malah nantinya akan berakibat terjadinya wabah penyakit karena rendahnya cakupan imunisasi. Ironi sekali dan semoga tidak terjadi hal demikian.

Imunisasi adalah suatu upaya untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila suatu saat terpajan dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan.  Imunisasi merupakan program kesehatan dunia yang dimotori oleh WHO dan dilaksanakan oleh semua negara di seluruh dunia sebagai program nasional termasuk Indonesia.

Pemberian Imunisasi sudah terbukti puluhan tahun menghilangkan atau mengurangi kejadian berbagai penyakit infeksi. Imunisasi merupakan suatu proses yang membuat seseorang menjadi imun (kebal) terhadap penyakit infeksi melalui pemberian vaksin. Penyakit infeksi merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman berupa bakteri, virus, jamur, parasit yang berasal dari luar tubuh. Sistem imun kita akan mengenal kuman yang masuk sebagai musuh yang harus dihancurkan dan imunitas terhadap kuman tersebut ditandai dengan terbentuknya zat anti bodi terhadap kuman tersebut dan bersifat spesifik terhadap kuman tersebut. Jadi prinsip pemberian imunisasi itu adalah memberikan antigen lewat vaksin ke dalam tubuh sehingga tubuh meresponnya dengan membentuk antibodi.

Berdasarkan data dari WHO, karena penyebaran COVID-19 secara global, lebih dari 117 juta anak di 37 negara berisiko terlambat mendapatkan imunisasi campak. Kampanye Imunisasi campak di 24 negara telah mengalami keterlambatan; beberapa diantaranya bahkan akan ditunda. Tidak adanya layanan Imunisasi dalam situasi pandemi COVID-19 berisiko menyebabkan kembalinya penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin yang aman dan efektif. Ketika layanan Imunisasi terganggu, meskipun dalam periode singkat selama pandemi, akan terjadi peningkatkan risiko Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti campak, difteri dan polio. KLB campak yang mematikan di Kongo tahun lalu, yang telah memakan 6000 korban jiwa di negara yang telah mengalami KLB Ebola terbesar, menekankan akan pentingnya melanjutkan pelayanan kesehatan esensial, contohnya imunisasi selama masa pandemi.

Di Indonesia, berdasarkan surat edaran dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tertanggal 24 Maret 2020 mengenai pelayanan imunisasi pada anak selama masa pandemi COVID-19, bahwa imunisasi tetap diupayakan lengkap dan dilaksanakan sesuai jadwal untuk melindungi anak dari PD3I (Penyakit yang dapat dicegah dengan Imunisasi).

Apabila kegiatan imunisasi tetap dilaksanakan di posyandu, maka harus dilakukan dengan prinsip social distancing, yaitu: pelayanan dilakukan di ruangan yang cukup besar dengan sirkulasi udara dua arah, memastikan area pelayanan posyandu dibersihkan sebelum dan sesudah kegiatan imunisasi, mengatur jarak antara petugas (minimal 1 meter), menyediakan wastafel dan sabun untuk mencuci tangan sebelum masuk ke ruangan imunisasi, mengatur jam kedatangan ke tempat pelaksanaan imunisasi sehingga tidak terjadi penumpukan, mengatur alur keluar dan masuk para orang tua yang mengantar anaknya imunisasi, serta petugas diharapkan dapat mensosialisasikan cara mencuci tangan yang tepat dan bagaimana menerapkan etika batuk/bersin. Para orang tua juga diwajibkan untuk memakai masker ataupun pihak penyelenggara posyandu bisa menyediakan masker untuk dibagi kepada mereka yang tidak memakainya.

Bila pelayanannya di puskesmas, maka puskesmas bisa menjadwalkan hari khusus untuk pelaksaaan imunisasi dan ruangan untuk tempat imunisasi terpisah agak jauh dari ruangan tempat poliklinik dimana pasien umum berobat. Sedangkan prinsip social distancing tetap sama dengan yang dilakukan oleh posyandu. Demikian juga halnya bila membawa anak ke klinik swasta ataupun ke praktik dokter anak.

Rekomendasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), bahwa pertimbangan untuk tetap dilakukan pelayanan imunisasi walaupun di masa pandemi ini adalah cakupan imunisasi dasar (DPT dan MR) tahun 2019 masih belum mencapai 90%, juga karena imunisasi sangat penting diberikan pada bayi dan anak sampai usia 18 bulan karena bila tidak mendapatkannya berakibat terinfeksi sehingga bisa terjadi kecacatan atau meninggal. Dan pertimbangan lain adalah belum ditemukannya vaksin Covid 19.

Nah, apabila orang tua kesulitan untuk membawa anaknya karena kondisi pandemi sekarang, penundaan imunisasi dibolehkan di daerah dengan transmisi lokal yaitu maksimal satu bulan dari jadwal seharusnya, dan segera diberikan bila situasi memungkinkan.  Mengapa? Karena jangan sampai nantinya karena takut tertular dengan penyakit covid 19 ini tapi membuat jadwal imunisasi terlambat sehingga bayi dan anak kita menjadi rentan terpapar dengan berbagai penyakit infeksi lainnya. Pastikan nanti imunisasi yang tertinggal bisa dikejar kembali (catch up).

Sangat direkomendasikan saat ini adalah pemberian vaksin yang dapat mencegah pneumonia yaitu Vaksin DPT-Hib, vaksin Pneumokokkus, vaksin MR, dan vaksin Influenza, selain tentu saja juga tetap melengkapi vaksin dasar lainnya dan bisa menambah vaksin tambahan sesuai anjuran dari IDAI.

Saking pentingnya pemberian imunisasi ini, bahkan bayi yang lahir dari ibu yang terkonfirmasi positif hasil swab dengan COVID-19, tetap boleh diberikan vaksin Hepatitis B (bila kondisi bayi bugar). Bagaimana halnya dengan bayi atau anak yang menderita COVID-19 ini? Maka pelaksanaan imunisasi tetap boleh diberikan setelah 2x pemeriksaan hasil swab dinyatakan negatif dan setelah 14 hari gejala sudah menghilang. Sedangkan untuk bayi/anak yang memiliki kontak dengan pasien COVID-19, maka tunda imunisasi sampai setelah selesai isolasi mandiri selama 14 hari. Imunisasi baru diberikan bila tidak menunjukkan gejala.

Jadi untuk melindungi bayi dan anak kita serta mencegah terjadi KLB, berikan imunisasi sesuai dengan jadwal. Imunisasi adalah ikhtiar kita para orang tua untuk mencegah berbagai penyakit menular yang membahayakan buah hati kita.

Minggu, 03 Mei 2020

Normalkah Tumbuh Kembang Anak Kita?


Pertumbuhan dan perkembangan adalah sesuatu hal yang berbeda. Pertumbuhan didefiniskan sebagai bertambahnya ukuran fisik tubuh berupa berat badan (BB), panjang/tinggi badan (PB/TB), serta lingkar kepala. Sedangkan perkembangan adalah bertambahanya kemampuan fungsi tubuh menjadi lebih komplek, misalnya bayi bertambah kemampuan dari tengkurap kemudian duduk, dari duduk menjadi berdiri kemudian berjalan (motorik kasar), bertambahnya kemampuan motorik halus seperti bisa menggapai benda, menggenggam dan juga memungut benda benda kecil serta juga perkembangan bicara/bahasa. Pada perkembangan juga melihat kemampuan fungsi-fungsi individu yang lain yaitu pendengaran, penglihatan, komunikasi, emosi, sosial, kemandirian, kecerdasan, bahkan perkembangan moral.

Rabu, 29 April 2020

Persiapan MP ASI Di Tengah Pandemi Covid 19


Wabah penyakit Covid 19 masih saja terus menjadi masalah kesehatan saat ini baik bagi negara kita maupun berbagai negara di dunia. Semua negara sibuk dengan berbagai langkah pencegahan maupun pengobatan serta bagaimana menyediakan berbagai alat pelindung diri untuk para tenaga kesehatan yang berjuang di lini terdepan. Masyarakat dihimbau untuk di rumah saja, tidak melakukan kegiatan di keramaian, selalu menerapkan social distancing dan juga physical distancing. Keluar rumah hanya untuk keperluan penting saja. Bila tidak ada hal yang urgen maka sebaiknya tetap berada di rumah beserta keluarga.

Senin, 13 April 2020

TBC di Tengah Wabah Corona


Walaupun saat ini kita sedang berada dalam wabah virus corona yang melanda Indonesia dan dunia, akan tetapi permasalahan penyakit tuberkulosis (TBC) jangan kita lupakan. Sampai saat sebelum Covid-19, TBC masih menjadi pembunuh di dunia sehingga dikenal dengan istilah “Captain of the Men of Death”. TBC menyebabkan kematian sebanyak 4000 orang per hari dan sebanyak 1,5 juta orang per tahun di dunia. Setiap tanggal 24 Maret diperingati sebagai World TB Day atau Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS). Peringatan tersebut bertujuan untuk mengingatkan masyarakat bahwa TBC masih menjadi epidemi di dunia dan di Indonesia masih menjadi penyebab kematian nomor satu. Indonesia menetapkan tema nasional peringatan HTBS tahun 2020 adalah “Saatnya Anak Indonesia Bebas TBC, untuk Indonesia Unggul”.

Minggu, 05 April 2020

Mencegah Covid 19 pada Anak


Saat ini dunia sedang menghadapi pandemi virus corona baru. Suatu penyakit baru yang dinamakan dengan Covid-19 (Corona Virus Disease 2019). Penyakit yang menyerang saluran pernafasan dan paru yang pertama sekali terjadi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Awalnya kasus berupa pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya dan menimbulkan banyak korban meninggal. Kemudian diumumkan bahwa penyebabnya adalah virus SARS Cov 2. Penyakit yang disebabkan oleh virus corona sudah pernah terjadi.  Virus corona ini merupakan virus yang sudah lama dikenal. Virus ini menyebabkan gangguan pernafasan ringan sampai berat. Ada penyakit MERS (middle East Respiratory Syndrome} yang pernah juga menjadi wabah di dunia, yang bersifat zoonosis, ditularkan dari unta kepada manusia. Kemudia ada juga SARS (Systemic Acute Respiratory Syndrome) yang ditularkan dari kucing luwak kepada manusia. Nah untuk covid-19 ini belum jelas diketahui apakah berasal dari hewan dan kemudian ditularkan kepada manusia.

Pakai Sarung Tangan bisa Cegah Corona?


Saat ini Indonesia sedang dilanda wabah virus corona atau dikenal dengan penyakit Covid-19. Termasuk juga di Aceh, terdapat 5 orang pasien Covid-19 yang positif, ada pasien dalam pengawasan (PDP) serta ada juga orang dalam pemantauan (ODP). Berbagai cara dilakukan oleh Pemerintah untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang penyakit Covid 19 tersebut, baik mengenai apa itu covid 19, cara penularannya, gejala yang timbul serta bagaimana cara pencegahannya.  Penyakit covid 19 ini ternyata sangat mempengaruhi semua lini kehidupan masyarakat. Ini bisa dimaklumi karena memang angka kejadian kasus yang sangat banyak di dunia dan jumlah kematian yang sangat tinggi. Masyarakatpun menjadi sangat khawatir dan berusaha waspada serta melakukan berbagai langkah pencegahan.

Minggu, 15 Maret 2020

Apakah Mimisan Berbahaya?


Mimisan merupakan keluhan yang paling sering dari para orang tua sehingga mereka membawa bayi atau anaknya periksa ke dokter. Para orang tua merasa sangat cemas bila anaknya mengalami mimisan. Mereka menjadi panik saat melihat darah yang mengucur dari hidung si anak. Mimisan dalam istilah kedokteran disebut dengan epistaksis. Apakah sebenarnya mimisan tersebut, apakah penyebabnya, hal apa saja yang perlu dilakukan di rumah saat anak mengalami mimisan dan kapan seorang anak harus dibawa periksa bila mengalami mimisan?

Selasa, 25 Februari 2020

Bullying Pada Anak

Beberapa waktu lalu kita terkejut saat membaca berita dimana seorang pelajar di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) di Jakarta meninggal karena upaya bunuh diri yaitu dengan melompat dari lantai empat sekolahnya. Dari informasi yang beredar dikabarkan bahwa siswa tersebut selama ini sering mengalami bullying atau perundungan (walaupun sudah dibantah oleh pihak sekolah). Terlepas dari betul tidaknya kabar tentang bullying tersebut, hal ini sangat membuat ngilu. Sebelumnya juga ada beberapa kasus yang hampir sama, terjadi bunuh diri pada remaja karena mendapat perlakuan (dibully). Sungguh miris!

Minggu, 23 Februari 2020

Cegah Stunting dengan MP ASI Berkualitas


Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) bahwa angka stunting pada anak balita yaitu 30,8% dan pada baduta 29,9%, menunjukkan penurunan dibandingkan Riskesdas 2013 dengan angka stunting 37,2%. Meskipun tren angka stunting mengalami penurunan, akan tetapi angka stunting kita masih berada di bawah rekomendasi WHO (yaitu di bawah 20%). Persentase stunting di Indonesia secara keseluruhan masih tergolong tinggi dan harus mendapat perhatian khusus.

Senin, 03 Februari 2020

Corona Oh Corona



Serangan virus Corona menjadi trending topic saat ini di seluruh dunia, termasuk di Indonesia bahkan juga di Aceh banyak masyarakat awam yang mulai membicarakan virus ini. Postingan di media sosial setiap harinya tidak terlepas dari pembahasan ataupun sekedar membagikan informasi tentang virus ini. Pada tanggal 31 Desember 2019, WHO China Country Office melaporkan kasus pneumonia yang tidak diketahui penyebabnya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Sampai dengan 30 Januari 2020, secara global 7830 kasus konfirm di 20 negara dengan 170 kematian. Rinciannya berupa: China 7761 kasus konfirmasi (termasuk Hongkong, Taiwan, dan Macau) dengan 170 kematian, Jepang (7 kasus), Thailand (14 kasus), Korea Selatan (4 kasus), Vietnam (2 kasus), Singapura (10 kasus), USA (5 kasus), Nepal (1 kasus), Perancis (5 kasus), Australia (7 kasus), Jerman (4 kasus), UAE (4 kasus), Kanada (3 kasus), Kamboja (1 kasus), Finlandia (1 kasus), Srilanka (1 kasus).

Selasa, 17 Desember 2019

Awas Polio Mengintai Aceh

Minggu yang lalu (tanggal 8 Desember 2019), kita dikejutkan dengan berita bahwa ditemukan satu kasus polio di Malaysia. Ini merupakan kasus pertama di Malaysia setelah negara tersebut bebas dari Polio selama 27 tahun sejak tahun 1992. Informasi yang dikemukakan oleh Dirjen di Kementerian Kesehatan Malaysia, Noor Hisham Abdullah, mengatakan seorang bayi berusia tiga bulan di Negara Bagian Sabah (tepatnya di wilayah Tuaran), diketahui telah terjangkit polio. Sebelumnya di bulan September tahun 2019, juga terjadi dua kasus polio di Filipina, masing masing menyerang anak usia 3 tahun dan 5 tahun. Dan diberitakan bahwa kasus yang terjadi di Malaysia sekarang, berdasarkan hasil pemeriksaan, bayi tersebut terinfeksi dengan virus yang sama dengan kasus polio yang terjadi di Filipina. Saat ini Pemerintah Malaysia sedang melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada sejumlah anak yang tinggal berdekatan dengan penderita tersebut.

Tertarik dengan kegiatan dan layanan informasi yang kami berikan?
Anda dapat memperoleh informasi terbaru melalui email.